Aku Rindu Jatuh Cinta

“Bonie, dia sudah pergi. Kenapa masih ingin menunggunya?”
“Dia tidak pergi. Berapa kali harus kukatakan. Dia hanya ingin sendiri sejenak.”
“Bonie, dengar. Itu artinya dia sudah tak lagi ingin bersamamu.”

Bonie memandangku tajam. Aku melukainya.

“Maafkan aku sekasar ini, Bon. Aku hanya ingin membuka matamu. Dia pergi, Bon! Dia meninggalkanmu!”

Bonie masih menatapku. Aku terdiam. Kupikir sudah cukup dalam aku melukainya hingga dia tak lagi membantah.

Dia bangkit, mengambil tas biru dan jaket lusuhnya, lalu beranjak menuju pintu. Sebelum menutup pintu besar itu dia menatapku lagi, lebih dalam dari sebelumnya.

“Kamu tahu, Fae? Kamu orang paling picik yang pernah kukenal. Kamu slalu menyuruhku berhenti. Berhenti mencintai dia yang pergi. Lalu berpikir bahwa kamu benar dengan terus berkata kamu mencintainya selama ini meski rasa itu sudah tidak kalian punya?”

Bonie berhenti.
Air mataku menetes. Tidak kusangka dia berkata begitu.

“Fae, lebih baik kamu urus rasa cintamu itu dulu. Dan biar kuurus rasa cintaku.”

Pintu terbanting.

Aku hanya bisa menatapnya hampa.
Dia benar. Bonie benar. Mungkin lebih baik kuurus perasaanku lebih dulu. Perasaan yang selama 6 tahun terakhir tak lagi terjaga.

Saga tetap disana. Di sampingku disetiap pernikahan yang kami bedua datangi. Tangan kami bergenggaman erat meski hati kami tak lagi merasakan perbedaannya. Senyuman hangat yang tetap terlepas setiap kami hendak berpisah. Dan sekian pelukan erat yang tak lagi bernyawa.

“Kapan kalian menikah?”

Pertanyaan yang selalu kami jawab dengan senyum lebar penuh kepastian.

“Kami tahu kok kapan kami akan menikah. Jadi, mohon ditunggu saja undangannya ya…”

Dia menatapku seakan aku pun tahu apa yang ada dipikirannya.
Dan aku tersenyum seakan aku tahu apa yang ingin kusampaikan padanya lewat seutas senyumku itu.

Terkadang aku berpikir, apa ini yang mereka bilang cinta yang sesungguhnya? Cinta yang ada karena biasa? Cinta yang tersisa saat kita tak lagi jatuh cinta? Kalau iya, sepertinya memang aku mencintainya.

Lalu apa kabar debar-debar? Dimana romansa? Tak berjumpa sebulan dengannya pun tak lagi sebuah perkara bagiku. Kupikir aku punya sejuta kehidupan lain yang menunggu untuk bersua.

Aku bangkit. Mematikan lampu dan beranjak menemui mimpi malam ini. Namun entah mengapa, meski telah gelap dan selimut memeluk hangat, aku masih tersadar. Mata terbuka dengan suksesnya. Kantuk yang menghinggapiku sejak pulang kantor tadi entah lenyap kemana.

Tiba-tiba aku merindukan dering telepon tengah malam yang mengucap kata rindu.
Atau bunyi sms yang membangunkanku jam 4 pagi dengan ucapan selamat pagi embun pagi.
Aku rindu pelukan hangat yang lama dan erat seakan tak lagi ingin terlepas.
Aku rindu kedatangan tiba-tiba saat aku masih belum mandi dan sibuk merapikan rambut yang berantakan.
Aku rindu kebingungan ketika sehari saja dia menghilang.
Aku rindu tatapan mata yang membuat jantungku berdegup kencang.

Dan,
Aku rindu jatuh cinta.


Saga, apa pernah kita mencinta?

Komentar

  1. peliharalah rindu itu sebelum rindu itu tak kan pernah hadir lagi dalam kerinduanmu...

    Tee

    BalasHapus
  2. secara fitrah manusia memang pembosan. pacar, istri, selingkuhan, TTM, HTS, maupun WTS pun tak akan mampu menghindarkan dorongan tersebut. Solusi? aku baru menikah hampir 1,5 tahun jadi aku ga' berani memberi solusi...

    BalasHapus
  3. berat bahasannya..... berasa real life. apa yg kau rasakan seharusnya jadi apa yg bisa kau perbuat

    BalasHapus
  4. 2 somad : your 1,5 years wed experience might be new things for me, so please share...
    ga ada istilah terlalu untuk sebuah awal kan?

    BalasHapus
  5. 2 adhi: semoga memang bisa diperbuat

    BalasHapus
  6. the beauty of losing makes u realize how worth one is to u....if it's still half-losing, make an effortful comeback yaa... (yanee)

    BalasHapus
  7. ni curhat soal mr.complicated bung...(anggi)

    BalasHapus
  8. 2 anggi: bukan nggi, cuma sekedar fiksi yang terinspirasi hati dan kopi, hehehe
    thx for reading n commenting...

    datang lagi ya...

    BalasHapus
  9. to embun bantal: tokoh yang mana mik?
    Bonie? Fae? atau Saga?

    BalasHapus
  10. BOSAN...
    Satu kata yang sulit dihindari ketika sebuah jalinan dimulai tanpa dasar yang tepat,,,

    Tapi kalo cinta memang ga pernah bosan,,,

    BalasHapus
  11. foto kopine sing onok blukuthuk'an bentuk hati itu apik, Bung :D
    tulisanmu ini membuatku kembali merindukan seseorang yang membuatku jatuh cinta, padahal mendengar suara dan bertatap muka dengannya saja aku belum... *sigh*

    apa salah untuk jatuh cinta dan terus berharap?

    keep writing ya, Bung :D
    cheers!

    (alfawzia)

    BalasHapus
  12. kadang kadang saat kita sudah tenggelam dalam zona kenyamanan,maka akan semakin sulit menarik diri dari situasi itu. meskipun kadang, kita mengerti bahwa chemistry itu nggak lagi ada. saat desir-desir itu berubah menjadi sebuah kebiasaan bersama'nya', mungkin itulah yang patut dipertanyakan, apakah memang perasaan itu masih ada?
    :)
    Frina Lusy Casca

    BalasHapus
  13. Remind me of something that close to the story of my life...

    "These open wounds never fail to remind of the time that you were mine. I always knew you were hard to find our hearts, together intertwined from that moment we were binded to me, our love was unconfined. But, you were so beautiful outside and to the deepest of your soul. I should of have saw it coming, should have known there'd be a day you'd go. My wounded heart still bleeds and my tears every night proceed, and my cries are my own private symphony, when i think of everything we used to be. You wont hear me. Your long gone. There's no reason for me to plea. I should have held on tighter all along."

    Rgd, CLW

    BalasHapus
  14. Really simple... somewhat too cliche. You need to dig more deeper to your heart, something miss out of your feel...

    Rgd, CLW

    BalasHapus
  15. 2 mita: iya, kadang

    2 ami: makasiiiih...
    yg jelas ga pernah ada yg salah kl udah urusan mencinta bu...keep on hoping, just like Raul Midon n Jason Mraz song...we just havent met him yet...

    2 lusy: bener banget, kadang "kebiasaan" membuat kita melupakan "rasa", semoga sedikit coretan ini kembali mengingatkan kita agar tidak melupakannya...

    2 CLW: huft...langsung tertohok aku, hehehe, makasih banyak review nya mba...yup, i need to dig my self more, drawn my self more to my words...makasih mbaaaa....oia, i luv ur words "and my cries are my own private symphony", anyway...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer