#30harimenulissuratcinta: perempuan-perempuan perkasa



Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka
ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

perempuan-perempuan perkasa
-Hartoyo Andangjaya-




Aku ingat melagukannya semasa masih memakai seragam putih merah dulu. Meneriakkannya lantang di depan kelas, lalu berpindah ke sebuah ruang berisi pembaca puisi hebat dari kota kecil kita itu.

Sejak itu aku ingin sepertimu, Ibu. Perempuan perkasa yang meski tak pernah kulihat engkau membawa bakul di pagi buta. Perempuan perkasa yang memberiku darah untuk sekedar bernyawa.

Ibu, aku rindu. Sudah berminggu-minggu aku tak menyapamu. Maafkan aku, Bu. Aku hanya lelah didera sederet pertanyaan kapan menikah darimu.

Menikah.

Bukan aku tak mau menikah dan menjadi sepertimu, menjadi ibu, sosok perempuan perkasa yang ada di benakku. Aku hanya ngilu jika harus menunduk dan menurut pada lelaki di setiap titahnya. Aku tak mau terkungkung dalam ruang bisu yang membuatku tak dapat bergerak dan menari sepuasku.

Bukan aku tak mau menikah dan menjadi sepertimu, menjadi ibu, sosok perempuan perkasa yang ada di benakku. Sungguh bukan itu. Aku ingin menjadi perempuan perkasa seperti di puisi itu tanpa harus menjadi tertindas dahulu. Kurasa aku tak perlu berhati baja jika harus menempa guratan kekecewaan yang semestinya bisa kuhindari dengan tidak tergesa-gesa memilih lelaki pendamping hidupku.

Aku hanya ingin jadi perempuan perkasa yang mampu berkata tidak dan iya sesuai dengan apa hatiku pinta. Itu saja.

http://browse.deviantart.com/photography/?q=mother&order=9&offset=48#/dmebqf

Ibu, aku rindu. Kutitipkan surat ini untukmu agar engkau tahu, betapa aku bangga menjadi putrimu. Putri dari perempuan perkasa sepertimu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer